Senin, 19 Mei 2014

Aku dibalik Suasana

“Aku dibalik Suasana



Aku bukan penerjamah bahasa tubuh, namun gerak gerikmu aku bisa pahami
Aku bukan seorang yang mampu mendengar hati berbicara, 
tapi aku tahu arti Dari senyumanmu, 
Aku bukan seorang yang mampu memikat perasaan seseorang
 namun aku paham, engkau kagum dengan tingkahku...
Jangan pandang aku sebagai manusia tanpa nalar, 
Jangan pandang aku sebagai manusia tanpa rasa
Karena aku, aku bisa saja lebih tahu soal rasa dari pada kamu

Bukan karena aku berpengalaman, tapi karena aku selalu mengamati.
Yang kudengar tentang rasa, selalu saja membuatku penasaran untuk
Membuktikannya, lalu kupilih beberapa sampel sebagai wadah uji cobaku.
Kamu salah satunya, yah kamu, kamu yang mungkin tidak pernah merasa,
kamu yang selalu berkata, “ aku tak akan tertipu dengan eksperimenmu”
Namun dibalik semuanya aku tahu dan aku paham 
jika kamu sendiri tidak percaya bahwa kamu telah menjadi 
sampel uji coba yang sukses...

Kedengarannya menyakitkan, namun begitulah 
cara Cinta bekerja dalam kehidupan,
Egois, kurasa begitulah karakterku.
Namun aku menyamarkan ego itu dengan tingkahku yang membuat orang
Selalu Penasaran untuk mengenalku.

Tatapan dingin, sapaan tanpa suara, dan juga senyuman datar yang hangat dari hati
Ini yang membuat orang lain penasaran mengenal seseorang.

Lambat laung, aku terbawa arus kedalam sebuah pemainan tanpa level,
Sebuah start tanpa finish, aku yang menyebutnya demikian.

Suatu senja sebelum malam menghapus keindahan sore , seorang wanita sedang menikmati indahnyaa merah saga dibalik kaca gedung tinggi ditengah kota ... Lalu sebuah siluet membentang menutupi pandangannya,
  lalu pandanganya beralih pada atap gedung tepat pada ujung siluet yang membentang itu.
 Seseorang sedang berdiri diatas gedung itu. Terlihat samar namun cukup jelas jika itu laki-laki. Kemudian suara teriakan memanggilnya ‘ Lis, Lilis apa kamu diatas! ?.
Ia kemudian berbalik dan menjawab ia,! Naik saja. 
Lalu ia berbalik kembali menatap kearah siluet 
Tadi dan orang yang berdiri disana telah hilang.
Sungguh ia begitu penasaran, kemana perginya siluet itu. Kemana perginya orang itu?
 Atau yang tadi hanyalah sebuah fatamorgana sore yang membentuk sebuah siluet.??
“hatinya bertanya-tanya” lalu karena rasa penasaranya
Kejadian itu ia tuliskan dalam sebuah kertas dengan judul 
“Siluet dari dimensi lain”

Orang yang ada diatas gedung itu aku, aku yang sejak lama memperhatikanya, namun baru kali ini aku tertangkap oleh pandangnya. Aku penasaranya ingin mengenalnya.
Tapi keadaan membuat enggan untuk mendekatinya lagi, sore itu adalah hari terkhir aku
Memperhatikannya diatas gedung tua itu.
Namun jujur ,jauh dari dalam hatiku.

Dia membuatku benar-benar penasaran tentang apa itu 
Mengagumi dan bagaimana rasa itu tercipta untuk seseorang.
Sampel, uji coba, penelitian? Bukan !!! ,sepertinya ini bukan lagi hal
Yang menyangkut sebuah pembuktian, tapi ini keinginan untuk peduli.
Aku jatuh cinta? Mungkin saja, tapi aku tidak suka memfonis diriku sendiri.


Makassar 20 Mei 2014

~Untuk seseorang yang selalu membuatku Penasaran~



Senin, 05 Mei 2014

Aku ingin memanggilmu dengan sebuah nama

Aku ingin memanggilmu dengan sebuah nama



Pukul 20:53 drriiiigggggg..driiigggggg suara getar hp.
Halo,... terjadilah percakapan dalam sebuah kamar mungil dengan orang lainya melalui sebuah sambungan telepone, siapa dibalik telepone itu?

Kamar yang biasanya hanya terdengar suara keyboard laptop yang sedang beradu dengan tangan, malam ini sedikit berbeda dari malam-malam biasanya,
Seseorang sedang datang menghiburnya melalui suara indahnya.

 Lilis, itulah nama seseorang dibalik telepon itu, seorang yang awal kehadiranya dalam hidup penulis, melalui sebuah jejaring sosial, kemudian berlanjut hingga saling mengenal lebih jauh dan belakangan di ketahui ternyata mereka adalah keluarga, hahahaha. Sungguh dunia begitu sempit.

Ini bukan kali pertamanya. seingat penulis,Lilis ini selalu hadir menghibur disaat penulis
Dalam keadaan butuh seseorang untuk membuatnya bersemangat... 
Seperti malam ini. 
Satu hal yang penulis tidak pernah paham, mengapa selalu tepat waktu kehadiranya,
Seakan ia tahu waktu bahagiaku dan sedihku, 
Bahkan teringat tahun 2012 lalu, ia bahkan memperingatkan aku, 
sebelum aku jatuh dalam kesedihan yang teramat menyesakkan.

Terkadang penulis bingung menilai sosok lilis ini, 
penulis tidak tahu harus menilai bagaimana, satu hal yang penulis ingin katakan 
Ia begitu mengagumkan,

Teringat awal penulis bertemu dengan sosok lilis ini, 
Itu terjadi waktu lilis masih duduk dibangku SMA, ia meminta penulis
Membuatkanya sebuah project power point, karena penulis adalah orang yang bergelut di dunia Komputer, dengan senang hati ia membantunya, entah itu karena penulis memang baik atau Itu adalah motif dibalik
 kebaikanya... Hahahaha. :D.
Saya yakin itu yang terfikir oleh orang-orang, dan mungkin itu benar adanya.

Itu awal penulis mengenal sosok lilis, yang malam ini hadir memberinya motivasi untuk
Menyelesaikan tumpukan tugas yang membuat kesehatan 
penulis menurun akhir-akhir ini...

“kerjakan selagi mampu agar tidak menumpuk” itu yang dikatakannya.
Penulis mulai curiga dengan sosok lilis, penulis mencurigai jika lilis adalah jelmaan dari Mario Teguh, hah !, 
MarioTeguh? dia kan laki-laki... ? 
Maksud saya, sifat motivatornya itu loh..

dari semua itu penulis berniat membuat sebuah nama untuk lilis, 
kambing lagi dong??? Bukan, maksud penulis, 
penulis ingin memanggil lilis dengan sebuah sebutan, 
contohnya “sang pendamai hati”, “ sang kebijaksanaan”, “ titik cahaya dalam kegelapan” 
 “ obor kemenangan”,”bayangan impian“ .
Tunggu-tunggu  kenapa semua nama ini seperti judul puisi saja... :D

Sekian lama penulis mencari nama yang tepat untuk panggilan 
sosok lilis ini,  sampai-sampai penulis harus mengarungi 2 samudra dan harus berkeliling di 5 benua lalu penulis mendapat 
sebuah nama yang begitu pas
“Lilis”
ini nama yang pas untuk sosok yang sangat mengagumkan ini.
Lalu kutulislah nama itu dalam buku kecilku, yang disampulnya tertulis, 
Nama orang-orang Spesial.


Ditulis dimakassar, 05 mei 2014



Sebuah Sapaan

Sebuah Sapaan



Pada sebuah keheningan hati, bintang dalam perasaan meredup dan hilang 
Aku yang akrab dikenal dengan manusia tanpa sapaan, hari ini
Aku benar-benar butuh sebuah sapaan dari siapa saja, lalu aku berjalan
Disebuah jalan yang menghubungkan jutaan manusia yang dikenal dengan
Akun sosial, aku lalu disapa oleh seseorang, benarkah aku disapa?
Benarkah sapaan itu untuk aku? Atau mungkin hanya aku saja yang merasa disapa
Oleh orang itu, dia bernama Malah, sosok yang belakangan ini muncul sebagai 
pengalih perhatianku disaat aku sedang ingin fokus dalam menjelajahi 
Dunia tanpa batas itu. 

Siapa orang ini? Mengapa aku begitu penasaran untuk mengenalnya?
Kiriman dari tuhankah dia? Inikah jawaban atas resah hati 
yang begitu berharap kawan hidup?
Sial, aku begitu dramatis menanggapi kehadiranya, aku bahkan sesekali berharap yang tidak-tidak, yah tapi mungkin itu hal wajar atau mungkin, aku saja yang begitu berharap menemukan sosok yang bisa menjadi kawan hidupku.

Lalu hari ini entah mengapa, hadirnya dalam sebuah tulisan
 Membuat aku merasa bebas untuk Berkata-kata, 
bahkan karenanya, hari ini aku merasa lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Sekali lagi, siapa orang ini?

Iakah sosok dalam mimpi itu?
Tuhan,!!! itukah kiriman yang telah kau janjikan untuk aku ?
Aku tidak paham dan aku benar-benar ingin tahu tentang suasana.

Tapi meski bagitu aku tidak akan tumbuhkan sebuah bunga untuk taman yang
Belum pernah aku temui. Namun disisi lain aku merasa sebuah bunga telah tumbuh dalam bejana hati yang terabaikan oleh rasa.

Namun, sebuah sapaan, terdengar jelas hari ini, entah itu nyata atau hanya sebuah Ilusi karena khayalku yang terlalu jauh...



Ditulis di Makassar, 5 mei 2014

Kamis, 01 Mei 2014

Kertas ini

Kertas ini



Kertas ini masih kosong, kosong tanpa coretan
Seharian ini aku mencari kata
Kata yang penuh makna untuk kutulis diatas kertas
Lalu aku mencoba rangkai kata yang hadir melalui rasa
Namun ini, bukanlah perasaan, ini hanya kata biasa yang 
Akan kutulis menjadi sebuah coretan...
Ini akan terlihat seperti sebuah kisah,
Kutulis namamu, namaku dan beberapa nama lainnya
Namun sekali lagi ini hanyalah cerita biasa...

Cerita tanpa makna, tanpa sebuah amanat
Aku hanya ingin mengisi kertas ini,
Sebagai coretan tanda akhir masa Sendirimu...
Dan akhirnya kertas ini punya juga sebuah coretan
Coretan yang akan kutunjukkan nanti,
Di hari “Pernikahanmu”...