Sabtu, 26 Juli 2014

sakit hati ini

Sakit Hati Ini


Rindu yang kian membekukan perasaan,
mematikan benih semangat kehidupan,
aku yang berdasar pada kasih sayang dan ketulusan
kini goyah  atas apa yang pernah kuyakni,
yakin bahwa aku mencintai seseorang,
yakin jika aku mengharapkan seseorang.

Perubahan, bukan itu yang kuharapakan,
Berpisah, bukan sesuatu yang kuinginkan,
Namun, keadaan yang memaksa hingga aku
berada dalam kedua keadaan itu…

dan disaat yang sama, rasa rindu itupun kembali hadir,
hadir untuk memastikan
dan mempertanyakan  kesungguhan atas janjiku…
siapa yang mengira jika hati teramat sakit mengenang janji itu,
janji yang kuucap janji yang pernah ingin aku tepati,
namun sejak kamis 27 maret 2014 lalu,
janji itu seakan tak pernah aku ucap...

sakit hati ini,
mencintai hati yang sebenanya hanya ilusi dan fatamorgana
aku ingin menyalahkan,
namun siapa yang harus kusalahkan?
Apakah dia? Atau aku yang terlau bodoh percaya atas kebohonganya...
Dia yang meninggalkanku tanpa suara,
Menyiksa harap atas kekagumanku...

Sampai saat ini aku masih bertanya mengapa aku dipermainkan?
Apakah aku punya salah terhadapmu?
Atau kamu hanya ingin menguji kebaikanku?
Entah apa maksud dari semuanya yang pasti aku sakit karena ulahmu itu.

Dan semenjak saat itu aku sangat membencimu dan kuharap tangisku
Akan menjadi tangismu suatu hari nanti..

Takalar, 27 juli 2014






kisah Azril

“kisah Azril”




“kak, aku ingin jauh dari kakak, aku tak ingin hubungan kita
Diketahui oleh teman-temanku” ini kata-kata terakhir yang Azril dengar dari
Orang yang begitu ia sayangi.
Sejak hari itu ia tak lagi pernah mengungkit tentang orang itu,
bahkan melihat tulisan namanya saja ia begitu enggan,
Azril memutuskan untuk benar-benar tidak lagi mengenalnya,
Meski itu sangatlah mustahil baginya, Azril lalu terjung kelautan manusia
Yang membuatnya lupa akan jati dirinya, Azril yang punya banyak Impian
semuanya terkubur bersama sesak yang membunuh akalnya untuk bangkit..

Orang yang ia sayangi itu bernama Yuni, nama panjangnya adalah Nur Ahyuni H.
Ia seorang mahasiswa Di Universitas Elit, sedang Azril hanya seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Swasta. Yang ada difikiran Azril, mungkin perbendaan inilah yang membuat Yuni menjauh darinya.

10 juli 2011, Azril yang begelut di dunia komputer, sangat begitu Akrab dengan
Media Sosial, hari itu ia seperti sedang punya tekanan dalam fikiranya, itu
Terlihat dari semua postingan yang ia terbitkan hari ini, sangat kacau
Dan begitu tidak karuang, sepertinya ini masalah tentang persahabatan.
Lalu azril mencari hiburan untuk membuatnya tertawa atau paling tidak tersenyum,
Kemudian Azril, mencari teman baru yang berasal dari daerahnya,
yang juga aktif di media sosial.
Ia memasukkan nama kota di kotak pencarian “Takalar”
Lalu ia berfikir jika pencarianya terlalu luas, lalu Azril menghapus nama Kota itu
Dan diganti dengan “Nama sekolahnya”
Maka muncullah sederatan nama-nama dari sekolahnya, ia terus
Menggeser kursor kebawah, lalu ia terhenti pada sebuah akun yang bertuliskan
“Nur Ahyuni H” . Azril lalu membuka profil akun itu, ia lalu terhenti sejenak
Ia merasa bahwa foto pada akun itu sering ia lihat.
Dimana yah?.. Ucap Azril sambil berfkir.

Karena rasa penasaranya, ia lalu menelusuri lebih jauh tentang akun itu,
Kemudian ia ingat, akun ini adalah milik salah satu junior saat ia Masih Duduk dibangku SMA, orang yang pernah didekati oleh sahabatnya, namanya Lukman.
Azril kemudian tersenyum, mungkin mengingat masa SMAnya.
Azril lalu mulai menambahkan Akun Nur Ahyuni H. Sebagai temannya.
“permintaan pertemanan terkirim” itu yang tertulis di layar monitor Azril.

7 bulan kemudian, azril kini akrab dengan teman media sosialnya itu,
Ia sering datang kesekolahnya untuk bertemu dengan dirinya,
Semakin lama dan semakin banyak kisah yang mereka lukis,

Hubunganya sekarang bukan hanya sekedar senior-junior
Tapi lebih, namun orang-orang sekitar tidak mengetahuinya...

Hingga pada saat yuni akan masuk keperguruan tinggi,
Yuni yang sedang bimbang dengan jurusan yang akan ia pilih
Ia kemudian bertanya kepada Azril, mengenai jurusan komputer?
Azril yang saat ini aktif sebagai mahasisawa komputer tentu saja dengan bangga menjelaskan tentang jurusanya itu...

Lalu yuni pun mengambil jurusan komputer ,yaitu jurusan teknik Informatika
Hanya saja yuni mengikuti sebuah program beasiswa hingga ia lolos keperguruan tinggi negeri elit di makassar, hal ini sebenarnya sudah menjadi kekwatiran azril,
Memiliki kekasih yang kuliah di perguruan tinggi elit,
Rasa-rasanya azril mulai tidak pantas,
Namun ia kemudian meyakinkan dirinya, ia berkata cinta bukan persoalan
Elit atau tidak, tapi persoalan kepercayaan.
Selama aku percaya pada dirinya kuharap Tuhan membuat hubungan kami tetap terjalin.
Namun ternyata, apa yang diyakini azril, apa yang selama ini azril pertahankan harus sirna dan harus menanggun sakit yang teramat dalam,
Tepat hari kamis tanggal 27 maret 2014
Yuni kekasih yang sangat ia sayangi, kini meminta untuk jauh darinya,
Azril tidak pernah mempertanyakan alasan yuni melakukan hal itu,
Tapi azril yakin ini karena perbendaan elit dan tidak...
Bagaimana tidak azril hanya mahasiswa dari perguruan tinggi swasta sedang yuni adalah mahasiswi perguruan tinggi elit,
Itu diyakininya dari kata-kata yuni yang mengatakan
“ aku tidak ingin hubungan kita dketahui oleh teman-temanku”

Mungkin ia malu punya kekasih seperti azril,
Mungkin ia tidak siap untuk dicaci dan ditertawakan oleh teman-temanya.
Maka dari itu ia lalu memutuskan untuk menjauh dari azril.

Tanpa ia berfikir betapa terpukulnya hati azril saat itu,
Sebenarnya yang membuat azril begitu terpukul adalah,
Yuni tanpa kata-kata langsung menhapusnya dari pertemanan di dunia sosial,
Membuat azril bertanya-tanya mengapa demikian?
Lalu azril memngirimi yuni pesan,
Saat itulah yuni menjelaskan keinginanya untuk menjauh dari azril,

Hanya kalimat “kak, aku ingin jauh dari kakak, aku tak ingin hubungan kita
Diketahui oleh teman-temanku” lalu ia menghilang tanpa jejak,
Azril saat itu seperti kehilangan jiwanya, ia menangis tanpa air mata
Berteriak tanpa suara,
Hidupnya saat itu menjadi sangat kacau...

Terus bertanya, bertanya dan bertanya
Apa salahku,kenapa meski saat seperti ini...???

Sungguh azril saat itu seperti orang gila,
Keseharianya dikampus sangat berbeda dari biasanya, ia yang selalu ceria
Ia yang selalu membuat teman-temanya tertawa
Kini ia lebih sering menyendiri dan berdiam...

Beberapa mata kuliahpun ia memilih untuk tidak masuk,
Ia memilih untuk pergi ketempat-tempat sunyi untuk berdiam diri...

Kini ia bukan lagi azril yang penuh semangat hidup,
Impia masa depan yang sering ia serukan
Seakan musnah diterjang badai kesedihan....
Mati kini ia punya perasaan, raga tanpa jiwa
Kaki tanpa langkah, kini ia tak lagi punya mimpi...

azril kini jauh melangkah dari impianya,
tinggalkan siluet kenangan dan merubah pola fikirnya
kini ia bukan lagi manusia yang dikenal dengan kelucuanya,
kini ia punya misi besar untuk masa depannya,
 ia berkata “ suatu saat apa yang kurasakan akan yuni rasakan juga”
inilah keadilan hatiku dan ini akan kuwujudkan....


Takalar 27 mei 2014.




Senin, 09 Juni 2014

Ini Bukan Aku



kulihat jejak tak berarti dalam kehidupanku, 
kurasakan sesak yang menyiksa dalam kalbuku, 
kurasakan ada yang memberontak disetiap desahan nafasku, 
Ini bukan aku...

Kata-kataku tak lagi seimbang disetiap kuberucap
Tatapku tak lagi fokus jika kumemandang
tubuhku goyah ketika kumencoba tuh melangkah
Aku, rapuh.. 
Ini bukan aku....

Siapa diriku ini?
Siapa yang mengambil alih kehidupanku?
Seakan tiada tawa tanpa kegemberiaan...
Senyuman yang diringi kerut dahi begitu terlihat...
Siapa aku ini?

Seperti kumengharap tahtah pada pelayan tanpa kebijaksanaan...
Dimana kekuatanku?
Kemana jiwaku pergi meninggalkan ragaku ?
Raga yang tak tahu siapa pemiliknya, namun aku masih sadar...
Memaksa airku mengalir kepenghujung tetas tangisan malam..
Siapa aku ini?

Bagai berseda riu bersama sang rembulan namun ia sedang tak ada..
Bagai tidur dalam lamunan namun aku masih terbangung...
Bermimpi tanpa tidur, ngantuk tanpa sayup mata...
Mengapa aku ini?

Hatiku menolak setiap pergerakanku,
Nafasku tercekik setiap aku menarik satu tarikan nafas...
Otakku manggigil hingga membuatku jatuh taksadarkan diri...
Mengapa aku ini?

Gelap yang kulihat ketika kumenatap kedalam diriku...
Kemana cahaya itu?
Cahaya yang pernah aku perjuangkan,
Redupkah ia? Atau hanya tertutupi kegilaan yg begitu pekat...
Aku harus bagaimana?

Mencoba mengulur waktu hingga kematian,
namun aku malah kehilangan harapan untuk menggapai segalanya...
Impian, cita, harapan, kemana mereka?
Semangatku dimana engkau? 
Tega kau tinggalku terkapar dalam kesendirian...

Pelita yang agung, izinkan aku meminjam cahayamu...
Cahaya ,yang akan kugunkan untuk menemukan semua yang hilang dariku...
Namun dimana aku akan mencarinya?

Masihkah mereka ada dalam diriku?
Masihkah jika kutemukan mereka akan
Menerima lemah hati ini yang terbuai akan kegilaan?
Masihkah mereka akan memberiku satu kesempatan untuk 
Bengkit melawan dusta dunia yang begitu kejam?
Aku ingin percaya!
Percaya pada diriku, 
jika aku tak akan kalah dengan kegialaan...

Namun nyata yang terlihat aku begitu hilang arah...
Aku sama sekali tidak percaya dengan diriku...

Sekali lagi ini bukan aku...





Makassar, 10 Juni 2014






Bersama Pekat Malam, dan Jutaan Impianku


Kata yang tercerna untuk setiap ucapan,
Bersembunyi dalam pekat malam dan kesunyian,
Aku takut akan diriku yang hilang kendali,
Bagai raga yang tak bernyawa ...
Berjalan tanpa tujuan...
Matipun sekan tak akan tiba...
Namun aku sedang menuggu kematian...

Malam semakin larut...
irama dentingan air menandakan ini baru saja hujan...
Oh, sungguh malam yang begitu pekat...
Aku takut untuk terbaring...
Aku takut untuk menutup mata...
Menjaga jarak dengan rasa kantuk, 
menahan sayup mata dengan tangisan,
Tangisan yang memecah pekat dan kesunyiaan...

Suara menggemah dalam hati.. 
Seakan tak mampu membendung air mata,
Air mata yang tak tahu untuk apa...
Hanya sekedar menangis,
tapi kurasa aku punya masalah...
Raga yang mulai memberontak untuk segera diistirahatkan...
Mata berteriak untuk segera dipejamkan...
Namun aku tak hiraukan mereka...
Karena aku takut untuk tertidur malam ini...

Haaaaaaaahhhh, 
Kuhelai nafas yang dalam... 
Mencoba meresapi kesunyian...
Mencoba memaknai apa yang telah kuperbuat 
untuk seluruh impianku...

Hahahaha, aku lalu hanya tertawa..
Kubaringkan raga ke tempat tidurku yang begitu berantakan malam ini...
Kupandangi langit-langit kamarku...
Mecoba mengurai satu persatu kembali impian yang telah
Kutetapkan untuk kuraih...

Mengkhayal akan keberhasilan...
Kemudaian kuulurkan tanganku mengarah langit-langit..
Lalu dengan lantang aku berteriak
“Aku tidak Akan Kalah dengan Kegilaan, Aku akan Meraih Kalian”
Lalu kuletakkan didadaku seraya berbisik,
“aku percaya pada Kebesaran Allah Azza Wa Jalla”
Amin....



Makassar, 10 Juni 2014



Senin, 19 Mei 2014

Aku dibalik Suasana

“Aku dibalik Suasana



Aku bukan penerjamah bahasa tubuh, namun gerak gerikmu aku bisa pahami
Aku bukan seorang yang mampu mendengar hati berbicara, 
tapi aku tahu arti Dari senyumanmu, 
Aku bukan seorang yang mampu memikat perasaan seseorang
 namun aku paham, engkau kagum dengan tingkahku...
Jangan pandang aku sebagai manusia tanpa nalar, 
Jangan pandang aku sebagai manusia tanpa rasa
Karena aku, aku bisa saja lebih tahu soal rasa dari pada kamu

Bukan karena aku berpengalaman, tapi karena aku selalu mengamati.
Yang kudengar tentang rasa, selalu saja membuatku penasaran untuk
Membuktikannya, lalu kupilih beberapa sampel sebagai wadah uji cobaku.
Kamu salah satunya, yah kamu, kamu yang mungkin tidak pernah merasa,
kamu yang selalu berkata, “ aku tak akan tertipu dengan eksperimenmu”
Namun dibalik semuanya aku tahu dan aku paham 
jika kamu sendiri tidak percaya bahwa kamu telah menjadi 
sampel uji coba yang sukses...

Kedengarannya menyakitkan, namun begitulah 
cara Cinta bekerja dalam kehidupan,
Egois, kurasa begitulah karakterku.
Namun aku menyamarkan ego itu dengan tingkahku yang membuat orang
Selalu Penasaran untuk mengenalku.

Tatapan dingin, sapaan tanpa suara, dan juga senyuman datar yang hangat dari hati
Ini yang membuat orang lain penasaran mengenal seseorang.

Lambat laung, aku terbawa arus kedalam sebuah pemainan tanpa level,
Sebuah start tanpa finish, aku yang menyebutnya demikian.

Suatu senja sebelum malam menghapus keindahan sore , seorang wanita sedang menikmati indahnyaa merah saga dibalik kaca gedung tinggi ditengah kota ... Lalu sebuah siluet membentang menutupi pandangannya,
  lalu pandanganya beralih pada atap gedung tepat pada ujung siluet yang membentang itu.
 Seseorang sedang berdiri diatas gedung itu. Terlihat samar namun cukup jelas jika itu laki-laki. Kemudian suara teriakan memanggilnya ‘ Lis, Lilis apa kamu diatas! ?.
Ia kemudian berbalik dan menjawab ia,! Naik saja. 
Lalu ia berbalik kembali menatap kearah siluet 
Tadi dan orang yang berdiri disana telah hilang.
Sungguh ia begitu penasaran, kemana perginya siluet itu. Kemana perginya orang itu?
 Atau yang tadi hanyalah sebuah fatamorgana sore yang membentuk sebuah siluet.??
“hatinya bertanya-tanya” lalu karena rasa penasaranya
Kejadian itu ia tuliskan dalam sebuah kertas dengan judul 
“Siluet dari dimensi lain”

Orang yang ada diatas gedung itu aku, aku yang sejak lama memperhatikanya, namun baru kali ini aku tertangkap oleh pandangnya. Aku penasaranya ingin mengenalnya.
Tapi keadaan membuat enggan untuk mendekatinya lagi, sore itu adalah hari terkhir aku
Memperhatikannya diatas gedung tua itu.
Namun jujur ,jauh dari dalam hatiku.

Dia membuatku benar-benar penasaran tentang apa itu 
Mengagumi dan bagaimana rasa itu tercipta untuk seseorang.
Sampel, uji coba, penelitian? Bukan !!! ,sepertinya ini bukan lagi hal
Yang menyangkut sebuah pembuktian, tapi ini keinginan untuk peduli.
Aku jatuh cinta? Mungkin saja, tapi aku tidak suka memfonis diriku sendiri.


Makassar 20 Mei 2014

~Untuk seseorang yang selalu membuatku Penasaran~



Senin, 05 Mei 2014

Aku ingin memanggilmu dengan sebuah nama

Aku ingin memanggilmu dengan sebuah nama



Pukul 20:53 drriiiigggggg..driiigggggg suara getar hp.
Halo,... terjadilah percakapan dalam sebuah kamar mungil dengan orang lainya melalui sebuah sambungan telepone, siapa dibalik telepone itu?

Kamar yang biasanya hanya terdengar suara keyboard laptop yang sedang beradu dengan tangan, malam ini sedikit berbeda dari malam-malam biasanya,
Seseorang sedang datang menghiburnya melalui suara indahnya.

 Lilis, itulah nama seseorang dibalik telepon itu, seorang yang awal kehadiranya dalam hidup penulis, melalui sebuah jejaring sosial, kemudian berlanjut hingga saling mengenal lebih jauh dan belakangan di ketahui ternyata mereka adalah keluarga, hahahaha. Sungguh dunia begitu sempit.

Ini bukan kali pertamanya. seingat penulis,Lilis ini selalu hadir menghibur disaat penulis
Dalam keadaan butuh seseorang untuk membuatnya bersemangat... 
Seperti malam ini. 
Satu hal yang penulis tidak pernah paham, mengapa selalu tepat waktu kehadiranya,
Seakan ia tahu waktu bahagiaku dan sedihku, 
Bahkan teringat tahun 2012 lalu, ia bahkan memperingatkan aku, 
sebelum aku jatuh dalam kesedihan yang teramat menyesakkan.

Terkadang penulis bingung menilai sosok lilis ini, 
penulis tidak tahu harus menilai bagaimana, satu hal yang penulis ingin katakan 
Ia begitu mengagumkan,

Teringat awal penulis bertemu dengan sosok lilis ini, 
Itu terjadi waktu lilis masih duduk dibangku SMA, ia meminta penulis
Membuatkanya sebuah project power point, karena penulis adalah orang yang bergelut di dunia Komputer, dengan senang hati ia membantunya, entah itu karena penulis memang baik atau Itu adalah motif dibalik
 kebaikanya... Hahahaha. :D.
Saya yakin itu yang terfikir oleh orang-orang, dan mungkin itu benar adanya.

Itu awal penulis mengenal sosok lilis, yang malam ini hadir memberinya motivasi untuk
Menyelesaikan tumpukan tugas yang membuat kesehatan 
penulis menurun akhir-akhir ini...

“kerjakan selagi mampu agar tidak menumpuk” itu yang dikatakannya.
Penulis mulai curiga dengan sosok lilis, penulis mencurigai jika lilis adalah jelmaan dari Mario Teguh, hah !, 
MarioTeguh? dia kan laki-laki... ? 
Maksud saya, sifat motivatornya itu loh..

dari semua itu penulis berniat membuat sebuah nama untuk lilis, 
kambing lagi dong??? Bukan, maksud penulis, 
penulis ingin memanggil lilis dengan sebuah sebutan, 
contohnya “sang pendamai hati”, “ sang kebijaksanaan”, “ titik cahaya dalam kegelapan” 
 “ obor kemenangan”,”bayangan impian“ .
Tunggu-tunggu  kenapa semua nama ini seperti judul puisi saja... :D

Sekian lama penulis mencari nama yang tepat untuk panggilan 
sosok lilis ini,  sampai-sampai penulis harus mengarungi 2 samudra dan harus berkeliling di 5 benua lalu penulis mendapat 
sebuah nama yang begitu pas
“Lilis”
ini nama yang pas untuk sosok yang sangat mengagumkan ini.
Lalu kutulislah nama itu dalam buku kecilku, yang disampulnya tertulis, 
Nama orang-orang Spesial.


Ditulis dimakassar, 05 mei 2014