Kamis, 24 April 2014

segeralah keluar dari kedamaian


Cerita lain dari rasa sedih adalah kebahagiaan
Sahabat, itu yang membuatnya begitu berarti untuk dikenang
Satu kalimat yang terucap pantas untuk di maknai,
Alur cerita yang tiada pernah berakhir hingga kematian itu datang,
Akan kubuatnya berwarna-warni agar aku tahu betapa 
Indahnya kehidupan ini,
 penuh masalah dan penuh dengan kebahagiaan

Kehidupan itu adalah bagian dari masalah,
Atau masalah bagian dari kehidupan
Apa pun itu, aku tidak akan pernah takut dengan masalah
Karena Masalah adalah cara terbaik untuk memahami diri sendiri

Betapa tragisnya kehidupan jika terus-menerus berharap kedamaian
Bagaimana jika masalah datang, sudahkan kita siap untuk itu?

Hanya jiwa dan hati yang terujilah yang bisa menjawab 
Pertanyaan seperti itu...

Kita, kita yang masih berada dalam kedamaiansegeralah keluar
Dan nikmatilah betapa hebatnya kita jika berjuang melawan sebuah masalah..

Berjuanglah dan bersiap menjadi orang-orang luar biasa...



Sabtu, 19 April 2014

“Surat Untuk Saudariku ”

“Surat Untuk Saudariku ”



Kepada dirimu yang sedang dekat dengan aku
Bukan ku ingin menyakiti, bukan ku ingin membuat dirimu kecewa
Tapi, aku tidak ingin terus merasa bersalah pada
Puluhan Tugas, yang diamanakan kepadaku
Aku juga tak ingin membohongi keadaan
Aku juga tak ingin engkau selalu merasa...

Untuk itu, aku ingin berbicara melalui baris kata,
Entah hal ini kamu anggap sebuah ketidak sopanan
Tapi bagiku, ini lebih baik dari pada 
Menyampaikan teriakan hati melalui sebuah ekpresi...

Dan juga aku tahu bagaimana batasan yang wajar
Yang tak seharusnya kita langgar sebagai 
Ummat yang patuh kepadaNYA...

Malam ini, akan kutulis kata demi kata yang seharusnya 
Engkau tahu sejak awal, Tapi ini kesalahanku
Aku yang selalu diam, menunggu waktu untuk berbicara
Tapi hingga malam ini aku rasa aku tak punya kesempatan itu...
Oleh karena itu semoga melalui baris kata ini
Semua yang harus kamu tahu bisa segera kamu ketahui:

=========================================================

“ maaf seribu maaf, jika selama ini aku hanya diam dan tak menanggapi 
kebaikanmu sedikitpun, bukan karena kutak punya rasa
Tapi aku takut menyakiti, aku takut engkau akan makin merasa...
Waktu yang terbuang sudah cukup banyak, dan apa yang kamu lakukan
Sungguh tidak wajar dan itu sudah melanggar batas yang seharusnya,
Jika yang kamu Harap dariku adalah “Cinta”, 
Maaf, Cinta yang kupunya hanya untuk pendampingku kelak.
Namun jika engaku tidak mengharapkan apa-apa dariku kumohon
Hentikan perlakuanmu kepadaku yang sudah melewati batas normal itu...

Maaf, jika selama ini aku diam, dan terlihat menikmati keadaan itu,
Tapi jujur kehadiranmu dalam hariku, telah membuat fokusku melenceng 
Dari apa yang telah kurencanakan...

Silahkan berkata jika aku ini manusia yang  “Sombong”
Karena bagiku yang pantas menilaiku hanyalah yang mencitpakanku...

Secara fitrah, kita adalah saudara jadi kumohon jangan nodai
Gelar suci itu dengan harap yang tak semestinya kau lakukan...

Jika kau ingin membenciku, kurasa itu hal pantas untuk aku
Itu adalah suatu yang memang seharusnya dan itu lebih baik...
=========================================================

Akhir kata,  jika engkau telah membaca surat ini, 
Jangan berharap akan menemukan aku lagi
Karena aku sudah meninggalkan tubuh yang telah aku diami
Yang akan kamu temui adalah jiwa baru
Meski raga yang kau lihat adalah aku...

Kumohon, atas nama Kesucian “CINTA” 
Jagalah cintamu dengan lemah kasihmu, 
hingga Allah SWT, menunjuk siapa 
yang sepantasnya untuk kau 
“Cintai” dengan “Halal” .


Dariku “ agus fajar “

Hadir dari Bisikan Angin

Hadir dari Bisikan Angin




Kini aku paham apa yang seharusnya 
aku lakukan untuk dirimu,
Aku akan selalu hadir mempehatikan kamu
Dibalik panggung kehidupanmu
Tak terlihat, tak ternilai
Tidak mengapa, karena yang 
Kubutuh hanyalah rasa senang
Untuk membantumu meraih sukses...

Tak apa jika engkau tak mengenalku
Tak mengapa jika aku harus
Tersenyum dibalik cermin yang kau tatap
Karena yang ku inginkan hanyalah kebahagiaanmu

Aku pernah berjanji padamu,
Dan aku akan menepati janjiku
Meski mungkin engkau tak tahu jika aku
Sedang menepati janji dibalik panggung ini...

Yah, aku.
Aku yang selalu menggapmu kekasih
Sampai kapanpun, bahkan jika kuharus
Melihatmu hidup dengan kekasih halalmu
Dihati ini aku akan tetap menganggapmu 
sebagai kekasihku...
Bukan ku ego, tapi aku merasa jika
Cintaku telah habis kuberikan kepadamu
Waktu itu...

Jadi wajar saja jika aku tak lagi
Bisa hadirkan nama lain dihati ini
Selain namamu...

Engkau yang hadir dari Bisikan Angin
Tetaplah anggap aku tak ada
Karena itu hanya persolan keadaan
Yang sesunggunya aku selalu bangga
Dengan apa yang kamu lakukan...

Untuk Menyapamu

Untuk Menyapamu



Jika suatu saat, kita saling menatap lagi
Harus bagimana aku menyapamu?
Lantaran gemercik rasa
 masih membasahi pelupuk sang jiwa...

Jika suatu ketika kita harus saling menyapa
Harus bagaiamana aku memulai untuk berkata
Sedang luka hati, masih menganga tak terobati
Tapi aku, aku sangat ingin menyapamu...

Namun jika saat itu harus tiba,
Lantas aku belum temukan cara untuk menyapa
Maaf , aku harus terdiam, 
Bukan karena kubenci,
Bukan karena kumarah,
Hanya saja, aku tak tahu cara untuk menyapa...

Hari ini

Hari ini 



Hari ini sejuta beban jiwa 
Kumutahkan dalam nyanyian
Serak teriakan membawa seluruh resah hati
Terbang melayang dan hilang
Hari ini aku ingin kembali pada posisi awalku
Sebagai programer dan penulis,
Kutahu kesalahkun selama ini
Aku terlau takut untuk bertindak...

Namun hari ini 
Akan kubangkitkan lagi semangat
 yang sempat memudar
Hari ini akan kujadikan hari bersejarah 
dalam kehidupanku
Hari yang membuatku paham akan dua hal
Pertama aku paham akan kesalahanku
Lalu kedua aku tahu cara untuk
kembali pada keadaanku yang semula

Yah, hari ini , hari yang telah kunanti
Karena jiwa ini telah bosan  
Menjerit karena ketidakmampuanya 
Untuk memahami keadaan...

Hari ini, juga telah membuatku mengerti 
Betapa petingnya berbagi cerita dengan sahabat
Meski ia tak memberikan solusi
Tapi dengan bercerita jiwa seakan melepaskan
Belenggu yang membuatnya terkapar..

Hari ini, aku bersumpah atas jiwaku
Aku tak akan mengulangi kesalahan
Dan aku akan tetap menjadi diri sendiri
Sebagai seorang “ Penyendiri “

Yah, hari ini aku kembali,
Bukan kurasa bukan aku yang kembali
Tapi tuhan yang memberikanku kesempatan 
Untuk berubah sekali lagi...

Hari ini, jumat 18 April 2014.

“Sang penyendiri”


Rabu, 16 April 2014

Sejam

"Sejam"



Sejam aku menatap dekstop
Namun tak sedikitpun kalimat yang terlihat
Bukan aku tidak punya ide untuk menulis
Namun sebaliknya
Dalam fikiran ini terlalu banyak yang harus kutulis
Sehingga aku sendiri bingung harus 
Memulai dari yang mana

Buku panduanku mengatakan
Aku harus menulis dalam keadaan apapun
Entah sedih atau pun senang
Karena hal itu aku mulai mengetik
Dan hanya menghasilkan 
Kalimat tidak jelas ini...

Sejam menatap dekstop yang mampu kutulis hanya ini.

Selasa, 15 April 2014

Jangan Pernah Merasa

Jangan Pernah Merasa


Setiap kata indah yang terangkai itu bukan untuk kamu
Hanya saja, kau yang mendengar kata itu
Sedang ia yang kumaksud, tak pernah tahu
Aku yang berharap pada dirinya bukan dirimu
Kuharap jangan pernah merasa
Karena yang kumaksud bukan kamu
Tapi orang lain, 

Aku tak ingin merasa bersalah lebih jauh,
Berhentilah memperhatikanku,
Menjaulah dari hidupku dan
sekali lagi jangan pernah merasa !

Aku Tak Suka Sikapmu

Aku Tak Suka Sikapmu


Belum terlalu lama kau hadir mengisi baris kisahku
Bukan, yang kupahami adalah kau menuggu saat ini
Saat ,dimana aku tak mampu untuk berdiri
Kau lalu datang menopang tubuhku yg kaku
Kaku, akan perjuangan yang melelahkan...

Siapa dirinya?
Apa yang ia inginkan?
Mengapa ia begitu antusias membuatku bangkit,
Sedang aku tidak pernah berniat untuk hal itu,
Kau basahi raga ini yang haus akan perhatian
Kau pedulikan aku sedang aku masih 
Bingung akan kehadiranmu...

Aku hargai apa yang kamu lakukan
Tapi sikapmu yang begitu kupertanyakan,
Aku sangat tidak suka...

Jangan Kacaukan Hidupku

Jangan Kacaukan Hidupku



Maret telah berlalu, tapi resah hati
 masih bernaung dalam kehidupan
Apa yang telah kau perbuat dalam hidupku
Mengapa hari itu terus saja hadir,
Hadir, Sebagai ilusi pembawa emosi...

Saat-saat seperti ini aku butuh jiwaku
Tapi, ia seakan tak berada dalam raga...
Musnahkan keyakinan dan pengharapan
Pada hebatnya impian yang telah terangkai...

Sekali lagi aku tanyakan
Apa yang kau telah perbuat dengan hidupku?

Waktu seakan kacau dalam perhitunganya
Hingga keadaan sekitar terasa 
tak berarti untuk kupahami,
Dengan kerendahan hati aku katakan
Aku begitu tersiksa karena ulahmu”.

Minggu, 13 April 2014

Raja di Tahta Hati

Raja di Tahta Hati



Raja di Tahta Hati


Raja yang merajai hati,
Kusebut ia cinta,
Titahnya menyebut satu nama,
Yang pernah berjaya di sudut qalbu.

Lembar kenangan tentangnya,
Masih tersimpan rapi di rak harapan,
Namun jalan berbeda membawa jarak,
Semakin kugapai, semakin ia menjauh.

Jiwa pun akhirnya memahami,
Hatinya bukan untukku.
Aku yang terlalu kagum padanya,
Melupakan kekurangan yang kupunya.

Kini hati telah ikhlas,
Melepaskan harapan yang usang,
Terbang jauh bersama ilusi,
Hingga yang tersisa hanyalah ketenangan.




“Bukan bisikan angin, juga bukan jeritan hati”

Bukan bisikan angin,
juga bukan jeritan hati



Masih kuterdiam di tempat yang sama,
Ingin memulai kisah baru,
Namun kisah lama belum juga menutup tirainya.
Terdiam, membeku di sudut kehidupan,
Menanti secercah cahaya membawa kedamaian.

Ke mana arah harus kumulai?
Bahkan langkahku ragu,
Bingung ke mana kaki ini akan
membawa raga yang kehilangan tujuan.

Di tempat ini, aku pernah menemukan persinggahan,
Namun waktu telah lama berlalu.
Semuanya lenyap,
Tak bersisa, bahkan tak ada tanda
bahwa di sini pernah hidup harapan.

Kumohon, kepada siapa saja,
Tunjukkan aku jalan keluar dari labirin ini!





Jagad Raya Terdiam

Jagad Raya Terdiam



Sejatinya hidup yang di perbolehkan 
adalah takdr itu sendiri,
Tapi ia hadir seakan mengubah takdir,
Membawaku jauh dari hidupku
Yang seharusnya...
Apa itu kesalahan?
Atau
 memang bagian dari takdir?

Sang ilusi terdiam
Ketika hal ini kutanyakan,
Langit seketika mendung
Ketika panganku tertuju padanya...

Para bintang saling berbisik,
Perlahan cahayanya meredup
Seakan ia tahu 
aku ingin bertanya pada mereka...